Tak pelak lagi, bahwa teknologi bedah refraktif sudah semakin canggih untuk saat ini. Waktu demi waktu para peneliti dan ophthalmology berfikir keras, bagaimana menciptakan sebuah mesin berteknologi canggih sehingga memudahkan baik dari sisi operator maupun dari sisi pasien dengan hasil yang tentunya sangat memuaskan atau paling tidak sesuai dengan harapan kalau memang melebihi tidak bisa.

Berbagai feature tambahan disematkan dari teknologi sebelumnya, tak lain untuk meningkatkan rasa aman dan presisi serta kecepatan yang tinggi, sehingga hasilnya memuaskan.

Namun, semua tindakan medis/operasi tentu ada kemungkinan resikonya, paling tidak dengan teknologi serba canggih dewasa ini, resiko itu bisa diminimalisir atau bahkan ditiadakan.

Banyak faktor yang bisa menimbulkan adanya resiko dalam tindakan medis, tidak hanya mesin sebagai alat, namun juga operator bahkan pasien dan lingkunganpun turut andil kemungkinan adanya resiko tindakan. Begitu juga dalam tindakan lasik, bisa jadi ada saja kemungkinan resiko – resiko tersebut.

Pada dasarnya resiko yang akan muncul sudah bisa diantisipasi dengan pemeriksaan pendahuluan yang lengkap dan tindakan yang direncanakan baik dari sisi data pasien maupun perangkatnya.

Resiko yang mungkin terjadi dalam operasi atau tindakan lasik antara lain :

  1. Mata kering (Dry Eye), ini bisa saja terjadi apalagi sebelumnya sudah ada kondisi mata pasien yang kering, kering dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Pemeriksaan kondisi air mata saat pra lasik juga anamnesa riwayat pasien terhadap kondisi air matanya sangat penting, untuk bisa memprediksi apakah nantinya setelah lasik akan terasa kering atau tidak. Khabar gembiranya bahwa kondisi mata kering pasca lasik itu boleh dibilang tidak permanen dan dalam masa pemulihannya akan diberikan obat tetes yang “mampu” menggantikan fungsi air mata yang kurang tersebut. Biasanya dalam waktu 1-3 bulan akan menjadi normal
  2. Over Correction  atau Under Correction, yaitu kondisi dimana pasca lasik didapatkan ada ukuran refraksi yang tersisa atau kelebihan dari target semula, misal seorang pasien awalnya R/L -6.00 D, setelah di lasik dan selang waktu 3 bulan diperiksa ternyata didapatkakn R/L – 1.00 maka ini dinamakan Under Correction, sebaliknya jika didapatkan  R/L +1.00 D maka dinamakan Over Correction. Bahwa target operasi lasik tidak harus NOL atau normal, dengan berbagai pertimbangan, misal : Sengaja disisakan menjadi Minus, dengan tujuan untuk monovision (untuk membaca dekat), tebal kornea yang memang tidak cukup jika harus di lasik menjadi NOL, sehingga target lasik tidak NOL. Khabar gembiranya lasik kami memberi garansi, jika dalam 1 tahun (policy saat tahun 2017) setelah lasik ada sisa minimal + – 1.00 dan kondisi kornea baik serta tebal kornea mencukupi dan layak untuk dilakukan tindakan ulang maka kami akan lakukan dengan gratis.
  3. Glare / Silau, seperti kita ketahui, bahwa ketika suasana cahaya gelap maka pupil kita akan membesar/melebar, sehingga sinar yang masuk semakin banyak. Ini akan terjadi ketika daerah yang dilasik diameternya lebih kecil dari diameter pupil pasien ketika kondisi gelap, sehingga seolah ada dua bias cahaya masuk ke mata dan berakibat penglihatan menjadi berpendar atau silau atau glare. Kondisi ini umumnya hanya terjadi malam hari, timbul pertanyaan, mengapa tidak dilasik dengan daerah yang luas? Tentu awalnya akan dilakukan seperti itu, namun daerah lasik yang luas akan mengambil jaringan kornea yang banyak juga, dimana ketika tebal kornea tida mencukupi maka kompensasi akan terjadinya glare adalah sebuah pilihan.