Dalam Konferensi Pers/Press Conference/Seminar Media dari SILC LASIK CENTER Jakarta, yang di selenggarakan di Jakarta pada tanggal 30 April 2018, dan dalam kesempatan itu dalam seminar media, disampaikan banyak hal mengenai kesehatan mata dan terutama mengenai LASIK. Berikut salah satu ulasan dari wartawan TEMPO.CO  sebagaimana diposting dalam : https://gaya.tempo.co/read/1084446/mata-minus-di-atas-6-coba-zlasik-cek-keterangan-dokter

TEMPO.CO, Jakarta – Gangguan refraksi, menurut  data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2014, adalah penyebab gangguan mata terbanyak di seluruh dunia. Gangguan refraksi merupakan salah satu gangguan pada penglihatan, di mana pembiasan cahaya yang masuk ke retina mata tidak bisa fokus meskipun media pembiasan di mata jernih. Sehingga penglihatan akan gelap atau pun buram.

Terjadinya gangguan penglihatan tentunya berdampak pada kualitas hidup, Anda sulit untuk bekerja, bersosialisasi atau melakukan aktivitas lainnya.

Terkait gangguan refraksi itu, dokter spesialis mata, Zoraya Ariefia Feranthy, mengungkapkan ada beberapa pilihan 3 terapi yang dapat diterapkan untuk mengatasinya. “Yaitu [penggunaan] kacamata, kontak lensa, dan bedah refraktif,” ungkap Zoraya di konferensi pers terkait LASIK dalam rangka 1st Anniversary SILC Lasik Center pada 30 Mei 2018 di Jakarta.

Khusus bedah refraktif, salah satu tindakan medis yang dapat dilakukan adalah Laser Assisted In Situ Keratomileusis(LASIK). LASIK merupakan metode yang pada prinsipnya mengubah kelengkungan kornea dengan penggunaan laser. “Sehingga kelainan refraksi dapat terkoreksi,” ucapnya.

Disebutkan juga ada dua prosedur yang LASIK yang diterapkan selama ini. Yaitu metode TRANS-PRK dan ZLASIK. Melalui TRANS-PRK, gangguan refraksi diatasi dengan melakukan bedah laser di mana tidak ada sentuhan ke kornea mata Anda oleh apapun selain alat laser.

“Sedangkan ZLASIK mengubah kelengkungan pada kornea mata melalui penggabungan penggunaan laser dengan pembuatan flap atau lapisan tipis pada kornea mata,” ucap Zoraya.

Untuk pemilihan prosedur yang tepat, lanjut Zoraya, sangat tergantung dari kondisi kornea pasien itu sendiri. “Diperiksa bagaimana kondisi korneanya, bagaimana bentuknya, ukuran refraksinya berapa,” dan setelah itu barulah ditentukan prosedur mana yang tepat untuk dilakukan. 

Untuk mata yang memiliki minus di atas enam dioptri akan dilakukan tindakan ZLASIK. Sedangkan, untuk minus yang kecil atau dibawah enak dioptri akan dianjurkan melakukan TRANS-PRK.

Mengapa? Alasannya, lanjut Zoraya, karena kedalaman kornea yang akan dilaser pada mata dengan minus di atas enam akan lebih besar dibanding lapisan kornea dengan minus dibawah enam. “Jadi, tugas kita [dokter] adalah memandu tatapelaksanaan terapi apa yang tepat berdasarkan kondisi kornea pasien.”

Berbicara mengenai risiko dan komplikasi yang bisa terjadi setelah penerapan prosedur, Zoraya mengatakan bahwa untuk hal tersebut memang akan ada. Namun, hingga saat ini, berdasarkan jurnal-jurnal yang memang sudah banyak dipublikasikan, presentase risiko dan komplikasi setelah bedah LASIK sangat kecil sekali. “Karena itu, yang harus diperhatikan sebenarnya adalah bagaimana pasien tersebut merawat dan menjaga kesehatan mata setelah dilakukan LASIK,” kata Zoraya.

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
YouTube
YouTube
Share
Instagram
Telegram

TUNGGU!,

Apakah sudah melihat video ini?