Anda berkacamata? Ribetkah? Nah…

Saya di sini ingin membagi atau menceritakan pengalaman saya saat di lasik. Okey awal cerita, saya merasakan mata buram itu dari SD terutama untuk mata kiri. Tapi ngga ada pikiran buat cek kacamata. Akhirnya saya pertama kali cek mata ke optik pas mau masuk SMP, betapa kagetnya mata kiri udah silinder 4.00, karena tidak yakin saya periksa ke sebuah RS dan hasilnya pun ternyata sama walaupun ga absolute hanya beda sedikit aja. Itulah awal saya mengetahui bahwa mata saya minus. Tahun ke tahun minus dan silinder nya ternyata bertambah dan pastinya sering ganti lensa dan kacamata. Bosen? Iya. But itu bukan pilihan tapi kebutuhan.

Singkat cerita pengalaman 7 tahun pake kacamata dengan minus yang lumayan tinggi  pastinya ya ketergantungan pake kacamata walaupun memang menghambat segala aktivitas. Apalagi yang dominan sehari hari pakai roda dua alias motor pasti ngalamin gimana rasanya kacamata kena hujan ,rasanya pengen saya lempar ini kacamata, huft. Apalagi sekarang pandemi covid yang mewajibkan pakai masker sehari hari? Rasanya penderitaan saya bertambah. Why? Menurut saya masker dan kacamata 2 hal yang ga bisa dipake berdampingan hasilnya ya kalian  bakal bertemu dengan “embun” yang bakal menganggu penglihatan. Percaya deh kaum pengguna kacamata pasti pernah ngalamin hal ini. Bener ga? Bener kan? Bener banget deh.

Sejak dulu saya memang berkeinginan untuk di lasik karena menurut dokter mata di salah satu RS memang salah satu cara agar terlepas dari kacamata memang di lasik tidak ada yang lain. Akhirnya dari sekian banyak rumah sakit atau klinik lasik mata, saya memilih SILC LASIK CENTER untuk mewujudkan mimpi saya terlepas dari kacamata.

Singkat cerita, sesampainya di klinik saya menjalani berbagai pemeriksaan pra lasik, dari situ ketahuan ternyata ukuran minus saya sekarang untuk mata kanan minus 1.00 silinder 1.25 dan mata kiri minus 1.00 silinder 4.50  gede banget kan? Huft ternyata minus dan silindernya nambah lagi. Setelah itu saya naik ke lantai 2 untuk bertemu dengan dokter dan pada saat konsultasi dokter memberikan kabar gembira bahwa mata saya layak untuk di lasik dan yang paling happy itu dokter bilang kalau minus dan silinder saya bisa habis.  Karena ga semua orang itu layak untuk di lasik dan ga semua orang juga mempunyai tebal kornea yang mencukupi untuk menghabiskan minusnya. Yeayy seneng aja gitu, so excited !!!

Pada hari H operasi saya masih rileks hihi, meskipun hanya operasi di daerah mata dan hanya menggunakan bius lokal,  tapi sebelum masuk ruang operasi saya disuruh ganti baju operasi gitu, susternya ngasih saya baju gaun, masker bedah dan penutup kepala. Di sini saya mulai deg-degan guys, walaupun perawat juga menjelaskan bagaimana prosedur nanti di dalam meja operasi.

Singkat cerita saya dipanggil suster masuk ke ruang operasi dan tiduran di meja operasi. Kurang lebih operasi berjalan 30-45 menit, ternyata operasi lasik ga se-menyeramkan yang dibayangkan ya, ga kerasa 30-45 menit berjalan dan finally operasinya selesai.

Sehabis lasik dinyatakan selesai betapa terharunya. Masyaallah bahagianya bukan main. Alhamdulillah guys penglihatan setelah operasi kaya disulap gitu, percaya ga percaya tapi beneran nyata, pakai kacamata 7 tahun langsung hilang dengan hitungan menit. walaupun penglihatan masih berembun/berkabut gitu. Tapi kata dokter saya itu ga apa apa, biasanya 1 hari setelah operasi embun/kabutnya hilang.

So. Kalian yang masih pakai berkacamata masih takut buat di lasik?

Bukannya sudah bosan pakai kacamata atau softlens bertahun tahun?

Saya sudah merasakan, kalian kapan?

Yuk lasik di SILC LASIK CENTER, tempatnya nyaman, pelayanan ramah dan pastinya professional serta yang membedakan dengan yang lain adalah biayanya yang bersahabat, sesuai dengan taglinenya yaitu “Everyone Can See Clearly Without Eyeglasses”.

Kacamata bikin ribet??  Yuk di Lasik di SILC LASIK CENTER…. (N)