Bisakah Mata Minus Disembuhkan?
Monday, March 18, 2024 | SILC Lasik Center
Bisakah Mata Minus Disembuhkan?
Mata minus (rabun jauh), atau secara medis dikenal sebagai miopia, merupakan salah satu kelainan refraksi mata yang paling umum terjadi di seluruh dunia. Kondisi mata minus memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan sehari-hari seseorang yang mengalaminya. Orang dengan miopia mungkin mengalami kesulitan saat mengemudi, menonton televisi, atau melihat papan tulis di sekolah. Hal ini dapat memengaruhi kinerja akademis, profesional, dan kegiatan sehari-hari lainnya.
Selain itu, miopia juga meningkatkan risiko terjadinya komplikasi serius pada mata, seperti katarak, glaukoma, bahkan kebutaan permanen, jika tidak ditangani dengan baik. Tapi, apakah mata minus disembuhkan secara total?
Mata minus dan gejalanya
Miopia merupakan kelainan refraksi mata yang umum terjadi pada anak-anak dan orang dewasa muda. Pada kondisi ini, cahaya yang masuk ke mata tidak fokus dengan tepat pada retina, melainkan di depan retina. Akibatnya, penderita kesulitan melihat objek yang berada pada jarak jauh dengan jelas, tetapi masih bisa melihat objek yang dekat. Miopia bisa disebabkan oleh memanjangnya bola mata atau kornea yang terlalu melengkung.
Selama dua dekade terakhir, jumlah anak yang menderita miopia telah meningkat pesat, terutama di Asia. Sekitar 90% anak mengalami miopia. Namun, dengan pemeriksaan mata rutin dan penanganan yang tepat, risiko penyakit mata akibat miopia dapat diminimalkan.
Sebagian besar kasus miopia dipengaruhi oleh faktor keturunan dan muncul biasanya saat anak-anak mulai tumbuh dengan pesat. Kondisi ini cenderung memburuk saat anak mencapai usia remaja dan mencapai puncaknya di sekitar usia 20 tahun. Karena itu, pemeriksaan mata secara teratur, terutama pada anak-anak, merupakan langkah yang penting untuk mencegah komplikasi yang dapat timbul akibat miopia.
Berdasarkan data dari International Myopia Institute, sekitar 30% populasi dunia mengalami miopia atau rabun jauh. Para peneliti di institusi tersebut memperkirakan bahwa jumlah penderita akan terus meningkat, mencapai sekitar 50% penduduk dunia (sekitar 5 miliar orang) pada tahun 2050, yang sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup. Kondisi kesehatan mata ini dinilai sebagai isu kesehatan masyarakat yang serius, karena dapat menyebabkan gangguan penglihatan, seperti katarak, glaukoma, bahkan kebutaan permanen, jika tidak segera ditangani.
Menurut data dari American Optometric Association, lebih dari 40% penduduk Amerika mengalami miopia, dan angka tersebut terus meningkat secara signifikan, terutama pada anak-anak sekolah. Para ahli memperkirakan tren ini akan berlanjut di masa mendatang.
Ada beberapa gejala yang umum dirasakan oleh penderita mata minus, misalnya:
1. Kesulitan melihat objek yang jauh dengan jelas, seperti papan tulis di kelas atau subtitle film di televisi
2. Mengedipkan mata secara berulang atau menggosok mata dengan sering
3. Memiringkan kepala atau menyipitkan mata ketika mencoba melihat objek yang jauh
4. Merasa cepat lelah saat melihat objek yang jauh
5. Sering mengalami sakit kepala, terutama setelah melakukan aktivitas visual yang intens, seperti membaca atau menonton televisi
Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter mata untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan diagnosis yang akurat. Dokter mata dapat memberikan rekomendasi tentang pengobatan atau koreksi yang tepat.
Gadget dan mata minus
Penggunaan gadget secara berlebihan bisa berkontribusi pada perkembangan atau progresivitas miopia pada beberapa orang, terutama pada anak-anak dan remaja. Beberapa studi telah menunjukkan hubungan antara penggunaan gadget yang berlebihan, terutama pada jarak pandang yang dekat, dengan peningkatan risiko perkembangan miopia. Hal tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti:
1. Ketegangan pada mata
Ketegangan pada mata terjadi, ketika mata dipaksa untuk fokus pada objek dalam jarak yang dekat, seperti layar gadget, untuk periode waktu yang lama. Ketika seseorang memandang layar gadget, otot-otot di sekitar mata harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan fokus pada gambar yang ditampilkan.
Ketegangan yang berkelanjutan ini dapat menyebabkan kelelahan mata, terutama pada otot-otot yang mengendalikan fokus lensa mata. Akibatnya, ketegangan fokus yang berlebihan dapat terjadi, yaitu kondisi ketika mata terus-menerus berusaha untuk menyesuaikan fokus pada objek yang dekat, seperti layar gadget.
Pada saat yang sama, penggunaan gadget dalam jarak dekat juga cenderung mengurangi frekuensi kedipan mata. Itu berarti mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup secara alami. Kondisi ini dapat menyebabkan mata menjadi kering dan teriritasi, meningkatkan ketegangan pada mata.
Ketika ketegangan pada mata terjadi secara berulang dan dalam jangka waktu yang panjang akibat penggunaan gadget yang berlebihan, risiko perkembangan miopia meningkat. Ini karena otot-otot di sekitar mata menjadi tegang dan tidak dapat beristirahat dengan baik, serta fokus yang berlebihan pada objek yang dekat dapat menyebabkan perubahan morfologis pada bola mata, yang pada akhirnya dapat menyebabkan perkembangan miopia.
2. Paparan cahaya biru
Paparan cahaya biru yang tinggi dari layar gadget dapat memiliki dampak signifikan pada kesehatan mata. Cahaya biru adalah bagian dari spektrum cahaya yang memiliki energi tinggi dan frekuensi yang tinggi, sehingga cenderung memiliki efek yang lebih kuat pada mata dan tubuh manusia.
Selain itu, paparan cahaya biru juga telah terkait erat dengan peningkatan risiko perkembangan miopia. Ini karena cahaya biru memiliki energi tinggi yang dapat menembus lebih dalam ke dalam mata dan dapat menyebabkan stres oksidatif pada jaringan mata. Paparan cahaya biru yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada struktur mata dan meningkatkan risiko terjadinya perubahan patologis yang terkait dengan miopia, seperti perpanjangan bola mata.
Karena itu, Anda perlu membatasi paparan cahaya biru dari layar gadget. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi paparan cahaya biru adalah menggunakan filter cahaya biru pada layar gadget, mengurangi waktu penggunaan gadget, atau menggunakan aplikasi atau pengaturan pada gadget yang mengurangi emisi cahaya biru. Ini akan membantu menjaga kesehatan mata dan memperbaiki ritme tidur alami tubuh kita.
3. Kurangnya aktivitas luar ruang
Kurangnya aktivitas di luar ruangan dapat berkontribusi pada peningkatan risiko perkembangan miopia, terutama pada anak-anak dan remaja, yang menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan dengan menggunakan gadget. Aktivitas di luar ruangan memberikan manfaat kesehatan bagi mata, termasuk paparan cahaya matahari dan jarak pandang yang lebih luas. Keduanya dikaitkan dengan penurunan risiko perkembangan mata minus.
Paparan cahaya matahari memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mata. Matahari menghasilkan sinar ultraviolet B (UVB), yang merangsang produksi vitamin D dalam tubuh. Vitamin D telah terbukti memiliki efek protektif terhadap mata dan dapat membantu mengurangi risiko perkembangan miopia. Selain itu, paparan cahaya matahari secara langsung juga dapat berpengaruh terhadap produksi neurotransmitter, seperti dopamine di dalam mata, yang dapat membantu dalam pengaturan pertumbuhan mata.
Di samping itu, aktivitas di luar ruangan juga memberikan kesempatan bagi mata untuk melihat objek dalam jarak yang lebih jauh dan luas. Melihat objek yang jauh dapat membantu relaksasi otot-otot mata dan mengurangi ketegangan fokus yang berlebihan. Juga, melihat pemandangan alam yang beragam dan dinamis di luar ruangan dapat memberikan stimulasi visual yang berbeda-beda, sehingga membantu mempertahankan kesehatan mata secara keseluruhan.
Karena itu, anak-anak dan remaja perlu menghabiskan waktu di luar ruangan secara teratur, terutama dalam aktivitas yang melibatkan paparan cahaya matahari dan jarak pandang yang luas. Kebiasaan ini dapat membantu menjaga kesehatan mata dan mengurangi risiko perkembangan miopia. Selain itu, Anda perlu beristirahat secara teratur dari penggunaan gadget dan aktivitas dalam ruangan, serta mengadopsi gaya hidup yang seimbang antara kegiatan di dalam ruangan dan di luar ruangan.
Koreksi mata minus dengan LASIK
Untuk mengurangi atau menghilangkan kondisi mata minus, Anda dapat mempertimbangkan opsi LASIK (Laser Assisted In Situ Keratomileusis). LASIK adalah tindakan bedah refraktif dengan bantuan laser, yang tujuannya membentuk kelengkungan baru pada kornea, khususnya stroma mata, untuk mengoreksi kelainan refraksi, termasuk mata minus.
Operasi LASIK sangat cepat, aman, akurat, presisi dan nyaman. Hasil LASIK juga bersifat permanen. Dengan teknologi yang semakin canggih, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses laser hanya hitungan detik saja. Untuk membuat flap sekitar 20 detik saja. Dengan waktu yang sangat singkat itu maka pasien akan merasa nyaman dan hampir tidak terasa.
Ada beberapa jenis LASIK yang ditawarkan oleh SILC Lasik Center, di antaranya:
1. ZLASIK
ZLASIK merupakan proses tindakan bedah refraktif dengan dua langkah cepat. Pertama akan dibuat lapisan tipis (flap) oleh mesin laser femtosecond. Setelah lapisan tipis itu dibuka, dilanjutkan dengan laser excimer untuk menghilangkan kelainan refraksi. Caranya, dokter membentuk ulang kornea pasien, agar cahaya bisa difokuskan tepat pada retina.
ZLASIK tidak melibatkan pisau bedah. Semua dilakukan oleh laser, sehingga prosedur ini sering disebut dengan all laser LASIK. Penyembuhannya sangat cepat. Dalam kurun waktu 4 hingga 6 jam pasien sudah merasa nyaman. Begitu bangun dari tempat tidur di ruang operasi, pasien sudah bisa melihat dengan ketajaman penglihatan, yang berangsur-angsur akan mencapai target yang ditentukan sebelumnya.
2. SmartSurface
SmartSurface merupakan tindakan bedah refraktif satu langkah. Prosedur ini tidak memerlukan pembentukan lapisan tipis (flap), tidak ada vakum, tidak ada suction, tidak ada pisau bedah, tidak ada sentuhan dokter, tidak sakit, dan sangat cepat.
Begitu laser ditembakkan, pasien diminta untuk fokus melihat satu lampu hijau yang ada di hadapannya. Selesai laser, mata dibersihkan, diberi obat dan ditutup sementara dengan lensa kontak selama 3 hingga 4 hari dan nantinya akan dilepas oleh dokter. Saat bangun dari tempat tidur ruang operasi, pasien sudah bisa melihat dengan penglihatan yang berangsur-angsur membaik. Perlu waktu minimal 3 hari sampai 1 minggu untuk melihat dengan jelas sesuai target dan akan sempurna dalam kisaran waktu 1 hingga 3 bulan.
SILC Lasik Center telah menjadi pilihan utama bagi pasien yang mencari layanan LASIK untuk mengatasi masalah rabun jauh di Indonesia. Dengan menggunakan peralatan terkini dari Jerman, klinik ini menjalankan prosedur LASIK dengan aman dan nyaman bagi para pasien. Sebelum menjalani operasi, dokter berpengalaman di SILC akan melakukan evaluasi yang teliti untuk memastikan bahwa kondisi pasien memenuhi syarat untuk menjalani prosedur LASIK.
Table of Contents
- Bisakah Mata Minus Disembuhkan?
- 5 Alasan Mengapa LASIK Dapat Membantu Kamu Lolos Tes Mata Kedinasan
- Mengenal KLEx: Teknologi Terkini Bedah Refraksi Tanpa Flap
- Membuka Jalan Menuju Langit Biru: Peran Krusial LASIK untuk Calon Penerbang TNI AU
- Tanya Jawab Umum LASIK untuk Orang Tua Calon Peserta Sekolah Kedinasan
- Mengapa SILC LASIK Center Dipercaya oleh Banyak Calon Taruna atau Praja Sekolah Kedinasan?