Mitos & Fakta Soal LASIK Untuk Mata Silinder
Monday, April 1, 2024 | SILC Lasik Center
Mitos & Fakta Soal LASIK Untuk Mata Silinder
LASIK (Laser Assisted In Situ Keratomileusis) telah menjadi pilihan tindakan bedah laser yang populer untuk koreksi penglihatan, termasuk bagi pasien yang menderita astigmatisma atau mata silinder. Namun, di tengah popularitasnya, banyak mitos berkembang seputar prosedur ini. Salah satu mitos yang sering muncul adalah bahwa LASIK tidak efektif untuk mengatasi mata silinder, dan bahkan bisa memperburuk kondisi mata.
Lalu, fakta apa saja yang penting diketahui seputar LASIK dan mata silinder? Mitos apa saja yang selama ini beredar dan banyak dipercaya orang?
Mitos: LASIK tidak dapat mengatasi mata silinder
Fakta:
Mata silinder bisa disebabkan oleh lengkungan tidak simetris pada kornea. Itu berarti cahaya dari objek yang jauh dan dekat tidak dapat dibiaskan dengan benar, sehingga gambar tampak buram atau terdistorsi.
Memang benar, pada tahun 1990-an laser yang digunakan untuk bedah refraktif laser tidak dapat mengoreksi astigmatisma. Tapi, berkat kemajuan teknologi selama beberapa dekade terakhir, laser yang digunakan dalam prosedur LASIK saat ini membuat kondisi mata silinder dapat diatasi.
LASIK sebenarnya merupakan pilihan yang tepat bagi Anda yang memiliki mata silinder. Astigmatisma merupakan sebuah kelainan refraksi. Seperti halnya rabun jauh (miopia atau mata minus) dan rabun dekat (hipermetropia atau mata plus), mata silinder dapat dikoreksi dengan LASIK.
Kornea pada pasien mata silinder memiliki kelengkungan yang berbeda pada satu arah atau yang lain, yang menyebabkan penglihatan menjadi kabur atau terdistorsi. Teknik laser canggih yang digunakan pada prosedur LASIK dapat memperbaiki kelainan refraksi ini dengan membentuk ulang kornea. Prosedur tersebut dapat mengatasi astigmatisma secara permanen dan meningkatkan kualitas penglihatan.
Mitos: Pasien dengan mata silinder bukan kandidat yang baik untuk LASIK
Fakta:
Karena merupakan mitos LASIK yang umum, tidak mengherankan jika banyak orang yang percaya bahwa mereka bukan kandidat yang baik untuk LASIK karena mengalami mata silinder. Padahal, mereka sebenarnya bisa saja cocok untuk menjalani prosedur LASIK.
Ada banyak rumor yang beredar di masyarakat tentang bedah refraktif dan astigmatisma, dan hampir semuanya salah. Sama seperti miopia dan hipermetropia, astigmatisma adalah kelainan refraksi mata. Karena itu, kondisi tersebut dapat dikoreksi dengan bedah refraktif, seperti LASIK.
Namun, ada batas normal yang berlaku. Misalnya, jika kelainan refraksi terlalu tinggi, maka Anda mungkin memerlukan tindak lanjut LASIK tahap kedua agar Anda dapat memperbaiki kondisi mata sepenuhnya. Pada beberapa kasus, kelainan refraksi terlalu tinggi, sehingga pasien mencari pilihan lain.
Lalu, dari mana asal mitos tersebut? Selain dari fakta bahwa astigmatisma tingkat tinggi berada di luar rentang yang direkomendasikan untuk LASIK, ada juga masalah astigmatisma lentikular, yaitu astigmatisma yang disebabkan oleh lengkungan lensa yang tak beraturan, bukan oleh lengkungan kornea.
Untuk astigmatisme lentikular, LASIK bukan pilihan yang tepat, karena LASIK hanya bekerja untuk mengoreksi kelainan refraksi pada kornea. Untuk masalah kelengkungan lensa, Anda bisa meminta rekomendasi dokter untuk mendapatkan pilihan operasi lain.
Mitos: Mata silinder membuat risiko efek samping jadi lebih besar
Fakta:
LASIK dapat memperbaiki astigmatisma, seperti halnya kelainan refraksi lain. Saat mengatasi mata silinder, risiko komplikasi pasca operasi LASIK yang rendah akan tetap sama seperti ketika mengatasi mata minus. Efek samping tersebut meliputi silau, lingkaran cahaya, semburat cahaya, dan mata kering, dapat dipertahankan.
Perawatan mata pasca operasi sangat penting untuk mengurangi efek samping. Mencegah ketegangan mata yang berlebihan pada hari-hari dan minggu-minggu pertama setelah operasi, dengan cara membatasi waktu di depan komputer dan menggunakan obat tetes mata secara teratur untuk mengatasi mata kering, merupakan kunci penting.
Risiko lain yang sering dikaitkan dengan operasi laser mata, seperti kehilangan penglihatan, juga rendah. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa Anda menjalani operasi dengan dokter mata yang memiliki reputasi baik. Dokter yang berpengalaman akan memeriksa hal-hal lain, seperti glaukoma, yang dapat menjadi bencana, jika tidak terdeteksi.
Mitos: LASIK untuk mata silinder lebih mahal dan kurang efektif
Fakta:
LASIK untuk mata silinder adalah prosedur yang sama persis untuk mengatasi rabun jauh dan rabun dekat. Mesin laser yang sama digunakan untuk melakukan prosedur LASIK, dan tidak ada mesin laser dengan kekuatan lebih besar untuk ditembakkan ke mata Anda, hanya karena Anda menderita mata silinder.
Jadi, mata silinder dan kelainan refraksi lain diatasi dengan prosedur LASIK yang sama, laser excimer yang sama, waktu pemulihan yang sama, dan prediktabilitas serta kemanjuran pasca operasi yang sama.
Mitos: LASIK tidak dapat mengatasi kombinasi mata silinder dan rabun jauh
Fakta:
LASIK bisa mengoreksi mata silinder dan rabun jauh secara bersamaan. LASIK merupakan prosedur bedah refraktif yang bertujuan untuk memperbaiki masalah penglihatan dengan cara membentuk ulang kornea, yaitu bagian permukaan depan mata yang jernih. Dengan menggunakan laser untuk mengangkat sejumlah kecil jaringan kornea secara akurat, bentuk kornea akan diubah untuk mengoreksi kelainan refraksi.
Jika Anda memiliki mata silinder dan rabun jauh, dokter bedah akan menggunakan laser untuk membentuk ulang kornea untuk memperbaiki kedua masalah tersebut secara bersamaan. Laser dapat mengangkat lebih banyak jaringan di satu area kornea dibandingkan area lain, sehingga dapat mengoreksi mata silinder. Dengan membentuk ulang kornea ke kelengkungan yang lebih optimal, kelainan refraksi secara keseluruhan akan berkurang, sehingga dapat mengoreksi rabun jauh.
Tapi, perlu diingat, LASIK merupakan prosedur yang sangat individual, dan tidak semua orang merupakan kandidat yang cocok. Sejumlah faktor, seperti tingkat keparahan kelainan refraksi, ketebalan kornea, stabilitas resep, dan kesehatan mata secara keseluruhan harus dinilai oleh dokter mata yang berpengalaman.
Mitos: LASIK kurang aman untuk mata silinder
Fakta:
LASIK umumnya merupakan prosedur yang aman untuk mengatasi mata silinder, asalkan pasien menderita astigmatisma kornea (bukan astigmatisma lentikular) dan berada dalam ambang batas yang telah ditentukan.
Operasi LASIK untuk mata silinder menuai kesuksesan yang tinggi. Sekitar 99% pasien mendapatkan hasil yang baik setelah prosedur, sebagian besar dari mereka mencapai penglihatan antara 20/20 setelah pemulihan.
Jutaan orang dengan mata silinder telah menjalani bedah mata laser dan penelitian menunjukkan bahwa LASIK merupakan prosedur yang efektif dan berisiko rendah untuk orang dengan jenis kelainan refraksi ini. Inovasi teknologi yang digunakan untuk bedah mata laser terus mengurangi tingkat efek samping dan komplikasi lain.
Mitos: Setelah LASIK untuk mata silinder, penglihatan malam jadi buruk
Fakta:
Ini adalah kesalahpahaman yang juga umum. Pada masa-masa awal prosedur LASIK diperkenalkan, yaitu lebih dari dua puluh tahun yang lalu, terdapat risiko efek samping berupa silau pada malam hari. Seiring dengan perkembangan teknik dan teknologi, efek samping berupa silau di malam hari telah dihilangkan. Dalam hal mengemudi di malam hari, beberapa pasien melaporkan bahwa setelah LASIK mereka dapat melihat lebih jelas pada malam hari daripada sebelumnya.
Mitos: LASIK untuk mata silinder menyebabkan rasa sakit
Fakta:
LASIK untuk astigmatisma kornea merupakan prosedur yang cepat dan tanpa rasa sakit. Dokter hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk melakukan operasi tersebut pada satu mata. Prosedur ini dilakukan secara rawat jalan, sehingga Anda dapat pulang pada hari yang sama.
Waktu pemulihannya relatif cepat. Kebanyakan orang dapat kembali beraktivitas normal dalam beberapa hari. Karena waktu pemulihan yang singkat, LASIK untuk astigmatisma menjadi pilihan yang nyaman bagi pasien dengan gaya hidup yang sibuk dan aktif.
Mitos: LASIK tak terlalu bermanfaat bagi pasien dengan astigmatisma
Fakta:
LASIK untuk mata silinder menawarkan sejumlah manfaat. Salah satu manfaat LASIK yang paling signifikan untuk pasien astigmatisma adalah perbaikan penglihatan. LASIK dapat memperbaiki kelengkungan kornea yang tidak beraturan, sehingga cahaya yang masuk ke mata menjadi lebih baik, fokus pada retina, dan mengurangi penglihatan yang buram.
Tindakan bedah ini dapat menghasilkan penglihatan yang lebih jelas dan tajam, sehingga pasien tak perlu lagi menggunakan kacamata atau lensa kontak. Dengan begitu, operasi LASIK dapat secara signifikan meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita astigmatisma dengan mengurangi ketergantungan mereka pada kacamata korektif.
Mitos: Semua orang boleh LASIK untuk atasi mata silinder
Fakta:
Untuk setiap metode bedah mata laser, ada kriteria kelayakan yang harus dipenuhi. Jadi, LASIK tidak untuk semua orang. Selain memastikan kondisi Anda, termasuk memastikan bahwa tingkat atau ukuran astigmatisma Anda berada dalam rentang yang dapat diatasi dengan LASIK, dokter bedah juga perlu memeriksa beberapa hal lain, seperti:
1. Usia Anda sesuai untuk menjalani operasi laser. Pasien yang terlalu muda masih akan mengalami perubahan resep kacamata, karena mata mereka masih dalam masa pertumbuhan.
2. Ketebalan kornea Anda. Karena bedah laser melibatkan pengangkatan jaringan kornea, maka Anda harus memiliki jaringan kornea yang cukup. Jika jaringan kornea yang tersisa akan terlalu tipis setelah operasi, hal ini dapat menyebabkan pelemahan dan distorsi.
3. Mata Anda dalam kondisi sehat secara keseluruhan. Jika Anda memiliki kondisi yang membatasi penglihatan Anda, seperti jaringan parut retina, operasi LASIK mungkin tidak bermanfaat bagi Anda.
4. Anda tidak sedang hamil atau menyusui. Perubahan hormon selama tahap kehidupan ini dapat berpengaruh terhadap resep dan pengukuran selanjutnya. Hal ini dapat mengakibatkan koreksi yang berlebihan (over correction) atau koreksi yang kurang (under correction).
Mitos: Kondisi mata silinder dapat berkembang atau kambuh lagi setelah LASIK
Fakta:
Mata silinder dapat terjadi setelah operasi LASIK, meskipun lebih dari 90% pasien yang menjalani prosedur ini mendapatkan penglihatan 20/20 tanpa masalah. Setelah prosedur LASIK, astigmatisma yang masih ada dikenal sebagai astigmatisma residual. Hal ini dapat terjadi akibat pengukuran sebelum operasi yang salah, penandaan kornea yang tidak tepat, kelengkungan kornea posterior, atau kesalahan prosedur pembedahan lain.
Memilih ahli bedah LASIK yang punya pengetahuan luas dan banyak pengalaman akan sangat mengurangi risiko astigmatisma setelah operasi LASIK.
SILC Lasik Center merupakan pusat LASIK kenamaan yang sudah menangani ratusan pasien dengan kelainan refraksi mata, termasuk astigmatisma. Berbagai mesin dengan teknologi canggih digunakan oleh para dokter berpengalaman di SILC. Anda yang menderita astigmatisma, tak perlu ragu lagi untuk operasi di sini.
Table of Contents
- Mitos & Fakta Soal LASIK Untuk Mata Silinder
- 5 Alasan Mengapa LASIK Dapat Membantu Kamu Lolos Tes Mata Kedinasan
- Mengenal KLEx: Teknologi Terkini Bedah Refraksi Tanpa Flap
- Membuka Jalan Menuju Langit Biru: Peran Krusial LASIK untuk Calon Penerbang TNI AU
- Tanya Jawab Umum LASIK untuk Orang Tua Calon Peserta Sekolah Kedinasan
- Mengapa SILC LASIK Center Dipercaya oleh Banyak Calon Taruna atau Praja Sekolah Kedinasan?