ARTIKEL

Mana Lebih Efektif Tangani Rabun Dekat, LASIK atau RLE?

Friday, April 5, 2024 | SILC Lasik Center
mana-lebih-efektif-tangani-rabun-dekat-lasik-atau-rle

Mana Lebih Efektif Tangani Rabun Dekat, LASIK atau RLE?

Ada sejumlah bedah refraktif yang bisa dipertimbangkan, jika Anda mengalami kelainan refraksi mata, termasuk hipermetropia atau rabun dekat atau mata plus. Dua di antaranya adalah LASIK (Laser Assisted In Situ Keratomileusis) yang sangat populer dan RLE (Refractive Lens Exchange).

Keduanya merupakan operasi mata yang menawarkan kebebasan dari kacamata dan waktu pemulihan yang terbilang singkat. Bedanya, LASIK merupakan tindakan bedah berbasis laser, sedangkan RLE melibatkan penanaman lensa artifisial untuk menggantikan lensa alami mata.

Membandingkan RLE dan LASIK akan membantu Anda memutuskan operasi mana yang terbaik bagi penglihatan Anda. Lalu, apa saja persamaan dan perbedaan di antara keduanya?

Beda LASIK dan RLE

Hipermetropia merupakan kondisi mata yang umum terjadi. Benda-benda di sekitar Anda tampak kabur, tetapi penglihatan Anda lebih jelas, ketika melihat benda-benda yang jauh. Jika Anda merasa mata Anda sering lelah dan mengalami masalah dalam fokus pada benda-benda yang dekat dengan mata, Anda mungkin menderita hipermetropia.

Mengapa hipermetropia bisa terjadi? Mata Anda seperti sebuah kamera. Kamera memfokuskan cahaya pada retina, yang memberi Anda penglihatan yang jelas. Rabun dekat disebabkan oleh cahaya yang tidak terfokus dengan benar, sehingga cahaya berjalan di belakang retina.

Salah satu penyebab hipermetropia adalah bola mata Anda lebih pendek dari ukuran normal. Ini berarti retina lebih dekat ke pupil, sehingga menyebabkan cahaya berjalan melewati retina. Mata normal biasanya memiliki panjang sekitar 23 mm, sehingga mata yang hipermetropia akan lebih pendek daripada 23 mm.

Selain itu, Anda juga dapat mengalami hipermetropia, jika kornea Anda datar. Kornea seharusnya melengkung untuk mengarahkan cahaya ke retina.

Kedua faktor ini menyebabkan rabun dekat, karena menyebabkan cahaya melewati retina. Akibatnya, penglihatan menjadi buram, dan dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari Anda.

Jika menderita rabun dekat hipermetropia, Anda bisa memakai kacamata sebagai koreksi awal. Namun, jika menginginkan hasil permanen, ada LASIK dan RLE yang bisa dipertimbangkan.

LASIK dan RLE masing-masing memiliki keunggulan tersendiri. Tapi, keduanya sangat berbeda dalam hal tingkat kesulitan prosedur, waktu yang dibutuhkan untuk menjalani prosedur, serta kondisi yang dapat ditangani. Meskipun LASIK memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan RLE, Anda perlu mempertimbangkan berbagai faktor, seperti biaya, proses pemulihan, dan risiko komplikasi atau efek samping.

Dalam mencari opsi operasi mata yang terbaik, Anda perlu berdiskusi dengan dokter untuk melihat dengan lebih cermat tentang apa yang diperlukan untuk melakukan RLE dan LASIK agar bisa membuat keputusan yang tepat.

Berikut ini beberapa perbedaan antara LASIK dan RLE dalam sejumlah aspek:

1. Teknik prosedur

LASIK merupakan bedah laser mata yang memungkinkan dokter bedah mata membuat flap kornea dan membentuk ulang jaringan di bawahnya, sehingga cahaya yang dibiaskan dapat melewatinya dengan benar. LASIK dapat menangani rabun jauh (miopia atau mata minus), rabun dekat hipermetropia, dan astigmatisma (mata silinder), serta memperbaiki penglihatan jauh dan dekat melalui opsi yang dikenal sebagai blended vision.

Laser pada LASIK diprogram untuk mengangkat jaringan mikroskopis dari kornea. Setelah itu, flap kornea dikembalikan ke posisi awal. Flap akan sembuh secara alami tanpa jahitan. Operasi LASIK membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 menit untuk menangani satu mata, atau sekitar 30 menit secara keseluruhan.

Khusus untuk penanganan rabun dekat hipermetropia, LASIK merupakan opsi yang tepat, jika tingkatan hipermetropia Anda tergolong rendah. Dengan laser, dokter akan membentuk ulang kornea agar kelengkungannya menjadi sempurna. Sehingga, penglihatan jarak dekat Anda menjadi jelas.

Namun, jika menderita rabun dekat hipermetropia dengan tingkat yang sedang hingga tinggi, Anda mungkin bukan kandidat yang tepat untuk menjalani beberapa prosedur korektif yang lebih umum, seperti LASIK. Sebaliknya, untuk kondisi rabun dekat hipermetropia tingkat sedang hingga tinggi, RLE bisa dipertimbangkan sebagai solusi terbaik.

RLE juga dinilai baik dalam mengatasi miopia, presbiopia, katarak dini, dan astigmatisma. Prosedur ini melibatkan pengangkatan lensa alami mata dan menggantinya dengan lensa intraokular artifisial (IOL). RLE sebenarnya adalah prosedur yang sama seperti operasi katarak. Bedanya, prosedur RLE dilakukan tanpa adanya katarak. Seperti LASIK, IOL refraktif telah membantu jutaan pasien mencapai penglihatan 20/20 atau lebih baik, tanpa memerlukan lensa korektif.

2. Kelayakan kandidat

Siapa pun yang berusia di atas 18 tahun dengan gangguan penglihatan yang stabil dalam hitungan waktu satu tahun sebelum prosedur akan memenuhi syarat untuk menjalani RLE. Walaupun, sebenarnya operasi ini paling cocok untuk mereka yang berusia di atas 40 tahun.

Pasien juga tidak boleh memiliki riwayat penyakit mata, dan mata mereka harus dalam keadaan sehat. Pasien dengan masalah autoimun, astigmatisma kornea yang ekstrem, atau masalah retina, tidak disarankan untuk melakukan RLE agar tidak mendatangkan risiko efek samping.

Jika memilih LASIK, Anda juga tidak boleh memiliki gangguan autoimun yang bisa menghalangi proses penyembuhan. Selain itu, Anda tidak dapat menjalani operasi LASIK, jika Anda memiliki katarak, kornea tipis, atau mata yang sangat kering.

3. Pemulihan

Karena teknik prosedurnya berbeda, maka waktu penyembuhan LASIK dan RLE pun berbeda. Anda akan mengalami rasa tidak nyaman yang ringan selama beberapa hari setelah RLE. Kedua mata dapat dioperasi pada hari yang sama. Banyak pasien merasa, operasi dua mata sekaligus merupakan pilihan yang jauh lebih nyaman daripada harus menjalani dua kali operasi.

Lensa yang lebih baru akan memerlukan waktu sepuluh hari untuk mencapai penyembuhan awal. Anda akan dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan penglihatan yang cukup jelas dalam waktu satu minggu. Implan multifokal mungkin memerlukan penyesuaian selama beberapa minggu, karena otak Anda harus beradaptasi dengan optik yang baru. Adaptasi visual Anda secara keseluruhan terhadap lensa baru dapat memakan waktu hingga tiga bulan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Sebaliknya, operasi LASIK dapat menimbulkan rasa tidak nyaman hanya dalam waktu singkat. Rasa tidak nyaman itu berupa rasa gatal, perih, dan berair selama sekitar empat jam. Namun, sebagian besar pasien dapat kembali bekerja dengan penglihatan yang jelas hanya dalam waktu satu atau dua hari setelah operasi. Meskipun, hasil operasi yang maksimal baru bisa dinikmati dalam waktu tiga hingga enam bulan.

4. Tingkat keberhasilan

RLE merupakan prosedur yang populer dan sangat efektif, dengan tingkat keberhasilan hingga 99%. Namun, beberapa pasien mungkin masih memerlukan kacamata untuk beberapa aktivitas, misalnya membaca.

Perlu diingat, seperti halnya prosedur bedah lain, ada kemungkinan kecil terjadinya komplikasi yang dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan permanen. Meskipun risiko ini jarang terjadi, Anda tetap perlu memahaminya, sebelum memutuskan untuk menjalani operasi.

Sedangkan LASIK adalah prosedur yang dianggap sangat sukses dengan komplikasi yang jarang terjadi. LASIK dianggap sebagai salah satu prosedur pembedahan teraman di dunia. Di samping itu, dengan satu kali tindakan, pasien yang menjalani LASIK dapat mencapai penglihatan 20/20.

5. Komplikasi

Semua operasi memiliki risiko, tetapi beberapa di antaranya memiliki risiko lebih besar daripada operasi yang lain. Mata merupakan organ yang sangat sensitif. Jika Anda mencari pilihan yang lebih aman antara RLE dan LASIK, komplikasi adalah faktor yang perlu Anda perhatikan. Perlu dicatat, kemungkinan terjadinya komplikasi pada kedua prosedur ini sangat rendah.

Karena LASIK adalah operasi yang teknologinya sangat berkembang, hasil prosedurnya sangat bergantung pada dokter yang melakukan operasi dan proses seleksi kandidat.

Berikut ini adalah komplikasi yang mungkin terjadi pada prosedur RLE:

1. Infeksi. Karena mata Anda berada dalam proses penyembuhan, maka infeksi mungkin saja terjadi, meskipun jarang.

2. Ablasio retina. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada pasien dengan rabun tingkat tinggi, karena mereka memiliki retina yang lebih tipis dan lemah.

3. Koreksi yang berlebih (over correction). Hal ini terjadi ketika lensa terlalu kuat, sehingga misalnya pasien rabun jauh dapat menjadi rabun dekat setelah operasi.

4. Koreksi yang kurang (under correction). Ini terjadi jika IOL tidak mengoreksi penglihatan Anda seperti yang diharapkan, dan masih ada resep yang tersisa. Prosedur LASIK lanjutan bisa dipertimbangkan sebagai solusi.

5. Dislokasi IOL. Hal ini terjadi ketika IOL tidak berada di tempatnya dan mengharuskan dokter Anda untuk memperbaiki masalah ini.

Di sisi lain, LASIK juga membawa risiko komplikasi, antara lain:

1. Koreksi yang kurang. Hal ini terjadi jika dokter mengangkat terlalu sedikit jaringan kornea, sehingga Anda tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Efek samping ini hanya terjadi pada sekitar 1% pasien. Perawatan ulang dengan laser sangat efektif untuk mengoreksi sisa kelainan refraksi.

2. Koreksi yang berlebih. Hal ini terjadi ketika laser mengangkat terlalu banyak jaringan, sehingga penglihatan Anda agak kabur, misalnya untuk penglihatan jauh. Tapi, efek samping ini lebih jarang terjadi dibandingkan dengan koreksi yang kurang dan dapat membaik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

3. Perubahan penglihatan. Kadang-kadang komplikasi dapat menyebabkan hilangnya penglihatan, sehingga penglihatan Anda berkurang dari yang Anda miliki sebelum LASIK. Tapi, kondisi ini sangat jarang terjadi.

6. Biaya

Karena perbedaan dalam teknik prosedur, harga di antara kedua tindakan bedah tersebut bisa berbeda. Sebagai contoh, dI SILC Lasik Center harga prosedur LASIK berada di kisaran harga Rp22 juta hingga Rp38 juta, tergantung pada jenis teknik LASIK yang dipilih.

Sementara itu, RLE di SILC membutuhkan dana sebesar Rp12 juta per mata untuk lensa monofokal dan Rp15 juta untuk lensa IOL premium.

RLE dan LASIK merupakan prosedur yang sama-sama mampu menangani kondisi kelainan refraksi yang sama. Namun, tidak semua orang cocok untuk melakukan kedua prosedur tersebut. Karena itu, Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik. Dokter mata dapat merekomendasikan pendekatan mana yang paling sesuai untuk Anda berdasarkan resep dan kesehatan mata Anda.

Jika Anda tidak yakin operasi mana yang tepat untuk Anda yang menderita hipermetropia, jadwalkan konsultasi dengan dokter di SILC Lasik Center. Dengan senang hati mereka akan mendiskusikan berbagai pilihan untuk mengoreksi hipermetropia. Para dokter berpengalaman ini akan membantu memilihkan pendekatan terbaik bagi Anda.