ARTIKEL

Mata Minus Bertambah Usai LASIK, Kok, Bisa?

Sunday, June 30, 2024 | SILC Lasik Center
mata-minus-bertambah-usai-lasik-kok-bisa

Mata Minus Bertambah Usai LASIK, Kok, Bisa?

Mata minus, atau miopia, atau rabun jauh, merupakan kondisi ketika Anda mampu melihat benda-benda yang berjarak dekat dengan jelas, tapi benda-benda yang jaraknya jauh terlihat buram. Kondisi ini terjadi karena sinar yang masuk ke mata tidak difokuskan tepat pada retina, melainkan di depan retina.

Mata minus biasanya disebabkan oleh kelengkungan kornea yang terlalu tajam atau bentuk bola mata yang terlalu panjang. Kondisi tersebut sering kali diwariskan oleh orang tua, sehingga umumnya gejalanya mulai terlihat pada masa kanak-kanak dan akan mulai stabil pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa.

Miopia yang merupakan salah satu dari kelainan refraksi mata bisa dikoreksi dengan operasi LASIK (Laser Assisted In Situ Keratomileusis) yang sifatnya permanen. Tapi, ada pasien LASIk yang kembali mengalami rabun jauh seusai LASIK. Kenapa demikian?

Cara LASIK koreksi mata minus

Mata minus disebabkan oleh kornea yang bentuknya tidak sempurna. Kelainan bentuk yang umum terjadi adalah mata terlalu panjang atau kornea yang terlalu melengkung. Ketika masuk ke mata yang lengkung korneanya tidak sempurna, cahaya itu tidak dapat difokuskan dengan tepat pada retina. Akibatnya, otak menafsirkan sinyal saraf sebagai gambar buram.

Kacamata dan lensa kontak dapat mengoreksi mata minus dengan mengompensasi bentuk mata. Keduanya memungkinkan cahaya terfokus dengan tepat pada retina, tapi hanya saat Anda memakai kedua alat bantu penglihatan tersebut. Sementara itu, LASIK dapat membentuk ulang kornea, sehingga cahaya dapat difokuskan dengan benar, sehingga Anda tidak perlu menggunakan lensa korektif lagi.

Tindakan bedah LASIK versi paling modern menggunakan 2 jenis laser canggih, yaitu laser femtosecond dan laser excimer. Laser femtosecond digunakan untuk menciptakan akses menuju lapisan bawah kornea dengan cara pembuatan flap pada kornea. Laser excimer kemudian digunakan untuk membuang sedikit jaringan dari kornea untuk menciptakan kelengkungan yang tepat. Dengan begitu, cahaya dapat difokuskan dengan baik. Proses inilah yang menghasilkan gambar yang lebih jelas dan tajam setelah LASIK.

Untuk penderita rabun jauh, tujuan LASIK adalah untuk meratakan kornea. Sedangkan untuk penderita rabun dekat (hipermetropia atau mata plus), dokter akan membuat lengkungan kornea yang lebih curam. Laser excimer juga dapat memperbaiki astigmatisma (mata silinder) dengan merapikan kornea yang tidak beraturan sehingga bentuknya yang lebih normal.

Ada sejumlah benefit yang bisa Anda rasakan dan nikmati, ketika memanfaatkan LASIK untuk mengoreksi rabun jauh. Yang sudah pasti, Anda tidak lagi terlalu bergantung pada kacamata atau lensa kontak, sehingga bisa lebih nyaman menjalani berbagai aktivitas.

Banyak orang memilih LASIK karena memiliki berbagai keunggulan. Di antaranya, waktu operasi yang singkat (kurang dari 15 menit), tidak ada pendarahan dan tidak ada rasa sakit, serta proses pemulihan yang singkat. Mayoritas pasien yang sudah menjalani LASIK bisa mendapatkan penglihatan yang lebih tajam setelah operasi. Sekitar satu atau dua hari setelah operasi, benda-benda di sekitarnya dapat dilihat dengan jelas dengan mata telanjang, dan bisa melakukan aktivitas normal.

Kenapa mata minus bisa kambuh?

Saat ini, operasi LASIK dianggap sebagai metode yang efektif untuk memperbaiki penglihatan bagi penderita rabun jauh. Hasil pembedahan LASIK bersifat permanen. Artinya, kornea yang telah diubah bentuknya akan tetap berbentuk seperti itu sepanjang hidup.

Tapi, masih ada sejumlah kasus ketika mata minus kambuh setelah operasi LASIK. Ada sejumlah penyebab yang ditemukan oleh dokter, antara lain:

1. Sisa miopia setelah operasi

Jika penentuan miopia sebelum operasi tidak tepat, maka parameter input untuk operasi LASIK akan salah. Hal ini dapat mengakibatkan miopia tidak dapat dihilangkan secara sempurna dan meninggalkan sisa kelainan refraksi setelah operasi. Tingkat miopia yang tersisa akan memengaruhi penglihatan pasien, baik sedikit maupun banyak.

Oleh karena itu, dokter mata harus menghitung indeks refraksi dengan akurat sebelum melakukan operasi LASIK. Untuk mencegah kesalahan dalam pengukuran penglihatan, pasien perlu mengikuti rekomendasi pra-operasi dengan cermat. Misalnya, menghentikan penggunaan lensa kontak lunak setidaknya dua minggu sebelum hari pemeriksaan intensif sebelum operasi LASIK.

Penghentian lensa kontak ini termasuk lensa kontak yang kaku, misalnya lensa Ortho-K, setidaknya tiga minggu sebelum pemeriksaan mendalam, agar mata dapat kembali ke kondisi refraksi semula. Menjalani proses pemeriksaan yang komprehensif dan evaluasi yang berkualitas akan membantu memberikan hasil pengukuran refraksi menjadi lebih akurat dan dapat diandalkan.

Miopia residual juga dapat terjadi akibat koreksi refraktif yang tidak sempurna. LASIK bertujuan untuk membentuk ulang kornea untuk mengoreksi kelainan refraksi yang menyebabkan miopia. Tapi, efektivitas koreksi tergantung pada beberapa faktor, termasuk kelainan refraksi sebelum operasi dan ketebalan kornea. Pada beberapa kasus, koreksi mungkin tidak dapat sepenuhnya menghilangkan miopia, sehingga masih ada sisa kelainan refraksi.

2. LASIK dilakukan saat mata tidak memenuhi syarat

Pada beberapa kasus, pasien memiliki struktur mata yang tidak cocok untuk prosedur LASIK, seperti ukuran mata yang kecil, rongga mata yang terlalu sempit, atau kelengkungan kornea yang terlalu tinggi. atau justru terlalu rendah.

Prosedur LASIK untuk memperbaiki kelainan refraksi hanya akan memberikan hasil terbaik, jika mata pasien memenuhi semua kondisi yang aman dan sesuai untuk tindakan bedah. Antara lain, refraksi yang stabil. struktur kornea yang normal, ketebalan dan kelengkungan kornea konsisten, tidak ada kelainan kornea (misalnya, kornea berbentuk piramida atau terlalu lurus), dan kesehatan pasien secara umum juga baik.

Selain itu, syarat usia juga perlu diperhatikan. Miopia dapat bertambah atau berkembang seiring bertambahnya usia, bahkan setelah LASIK. Kejadian ini lebih sering terjadi pada pasien yang menjalani LASIK di usia yang lebih muda, karena mata mereka masih terus berubah seiring waktu.

3. Metode bedah yang dipilih tidak tepat

Inti dari operasi LASIK adalah menggunakan laser untuk mengikis kornea untuk mengubah kelengkungan, sehingga menghilangkan miopia. Semakin tinggi derajat miopia, semakin banyak kornea yang terkikis.

Jika pasien mengalami miopia yang terlalu parah dan kemudian memilih operasi LASIK, kornea yang tersisa akan menjadi sangat tipis dan tidak nyaman saat ditekan, sehingga menyebabkan dilatasi kornea dan miopia kembali. Karena itu, memilih metode pembedahan yang tepat merupakan langkah sangat penting. Pasien sebaiknya tidak memaksa untuk LASIK, jika tidak dinyatakan sebagai kandidat yang baik oleh dokter.

Pasien dengan tingkat miopia yang sangat tinggi berpotensi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami miopia residual atau regresi setelah LASIK. Mengoreksi tingkat miopia yang lebih tinggi bisa menjadi proses yang lebih menantang, dan mencapai hasil yang optimal akan lebih sulit.

4. Aktivitas mata yang berlebihan setelah operasi

Setelah operasi LASIK, kegiatan paling penting yang harus dilakukan pasien adalah beristirahat dan mengistirahatkan matanya untuk sementara waktu. Tapi, ada saja pasien yang enggan merawat mata mereka dan terus melakukan banyak kebiasaan kurang baik, seperti begadang, kurang tidur, melihat layar terlalu dekat, menggunakan ponsel dengan layar gelap, menggunakan cahaya yang kuat dalam kegelapan, melihat benda-benda yang terlalu terang. Kegiatan seperti ini berpotensi menyebabkan mata kembali mengalami rabun jauh setelah operasi.

Cegah mata minus kembali datang

Penting untuk dicatat bahwa mengalami miopia kembali setelah LASIK relatif jarang terjadi. Itulah kenapa Anda harus berkonsultasi dengan dokter mata, jika sampai terjadi perubahan penglihatan setelah operasi. Dokter dapat mengevaluasi situasi dan menentukan tindakan yang tepat, yang dapat mencakup prosedur korektif lebih lanjut atau metode koreksi penglihatan alternatif.

Penyebab miopia berulang yang disebutkan di atas dapat dikontrol sepenuhnya dan dihindari, jika dokter dan pasien bekerja sama untuk merancang dan melakukan tindakan yang tepat. Ada beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya miopia kembali setelah LASIK, antara lain:

1. Batasi waktu di depan layar

Membaca, belajar, atau menggunakan perangkat elektronik dalam waktu yang lama pada jarak dekat dapat menyebabkan perkembangan miopia. Anda dianjurkan untuk beristirahat secara teratur, menjaga jarak baca yang tepat, dan mempraktikkan aturan 20-20-20 (setiap 20 menit, lihatlah sesuatu yang berjarak 20 kaki selama 20 detik) untuk mengurangi ketegangan mata.

2. Pertahankan gaya hidup sehat

Diet seimbang, olahraga teratur, dan tidur yang cukup berkontribusi terhadap kesehatan mata secara keseluruhan. Mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi, seperti vitamin A, vitamin C, dan asam lemak omega-3 dapat mendukung kesehatan mata dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

3. PIlih klinik LASIK dengan reputasi baik

Sebelum menjalani LASIK, lakukan pemeriksaan yang komprehensif di klinik atau rumah sakit yang memiliki reputasi baik untuk menentukan parameter mata secara akurat. Pilih dokter yang berpengalaman dan memiliki rekam jejak yang baik.

Hanya jalani operasi LASIK, jika mata memenuhi syarat dan rabun jauh sudah stabil. Dokter yang berpengalaman akan membantu memilihkan metode operasi yang sesuai dengan kondisi mata Anda.

4. Ikuti petunjuk pasca operasi

Mematuhi instruksi perawatan pasca operasi yang diberikan oleh dokter mata merupakan langkah sangat penting untuk proses penyembuhan dan hasil yang optimal. Instruksi tersebut antara lain menghindari mengucek mata, mengikuti dosis obat yang diresepkan, dan menghadiri konsultasi kontrol tindak lanjut yang telah dijadwalkan secara berkala.

Hilangkan kebiasaan buruk yang terkait dengan kesehatan mata, rawatlah mata Anda dengan baik setelah operasi. Misalnya, rajin menggunakan kacamata pelindung saat berada di luar ruang.

5. Periksakan mata secara teratur

Setelah LASIK, Anda perlu menjalani pemeriksaan mata secara reguler agar dokter bisa memonitor perubahan penglihatan dan mendeteksi masalah sejak awal. Penanganan masalah penglihatan yang muncul dengan segera dapat membantu mencegah komplikasi lebih lanjut.

Kalau penglihatan Anda kembali mengalami masalah usai menjalani operasi LASIK, jangan menunda untuk konsultasi ke dokter. Dokter akan mencari tahu penyebabnya, sehingga bisa merekomendasikan intervensi yang tepat. Treatment yang dilakukan secara dini akan mencegah miopia meningkat dengan cepat, sehingga sulit untuk diatasi dengan tepat.

SILC Lasik Center tak hanya dilengkapi oleh peralatan dengan teknologi mutakhir, melainkan juga dengan dokter-dokter ahli berpengalaman. Jika Anda mengalami miopia dan ingin mendapatkan penglihatan yang baik tanpa kacamata, segera hubungi SILC untuk melakukan konsultasi dengan dokter SILC.